Parkinson Indonesia

Parkinson di Usia Muda: Kasus Meningkat, Gejala Kerap Terlambat Disadari

Kasus Penyakit Parkinson tidak lagi didominasi kelompok lanjut usia. Sejumlah laporan medis menunjukkan munculnya Parkinson pada usia di bawah 50 tahun, bahkan sebagian terdiagnosis sebelum usia 40 tahun. Kondisi ini dikenal sebagai Young-Onset Parkinson’s Disease (YOPD).

Meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan Parkinson pada lansia, para ahli menilai kasus usia muda sering kali terlambat terdiagnosis karena gejalanya dianggap sebagai kelelahan biasa atau gangguan otot ringan.

Gejala Awal yang Sering Diabaikan

Pada usia muda, gejala Parkinson bisa tampak lebih halus. Beberapa tanda yang kerap muncul antara lain:

  • Tremor ringan pada satu tangan

  • Gerakan terasa melambat

  • Kekakuan otot, terutama di bahu atau leher

  • Perubahan tulisan tangan menjadi lebih kecil

  • Mudah lelah tanpa sebab jelas

Tidak jarang pasien muda awalnya didiagnosis sebagai gangguan saraf terjepit, stres, atau masalah muskuloskeletal sebelum akhirnya terkonfirmasi sebagai Parkinson.

Mengapa Bisa Terjadi di Usia Produktif?

Spesialis saraf menjelaskan bahwa faktor genetik lebih berperan pada Parkinson usia muda dibandingkan pada usia lanjut. Selain itu, paparan lingkungan tertentu dan faktor biologis lainnya juga dapat berkontribusi.

Berbeda dengan pasien lansia, penderita usia muda umumnya memiliki progresivitas penyakit yang lebih lambat. Namun, karena mereka berada di usia produktif, dampak sosial dan psikologisnya bisa lebih besar—terutama terhadap pekerjaan dan kualitas hidup.

Penanganan dan Harapan

Terapi Parkinson usia muda pada dasarnya serupa dengan pasien lansia, yaitu menggunakan obat-obatan untuk meningkatkan kadar dopamin dan terapi rehabilitasi. Pada kasus tertentu yang tidak lagi responsif terhadap pengobatan, tindakan seperti Deep Brain Stimulation (DBS) dapat menjadi pilihan untuk membantu mengontrol gejala motorik.

Dokter menekankan pentingnya deteksi dini. Semakin cepat terapi diberikan, semakin baik kontrol gejala dan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.

Jangan Abaikan Tremor di Usia Muda

Tremor atau kekakuan otot yang menetap bukanlah hal normal, bahkan pada usia 30–40 tahun. Konsultasi ke dokter saraf diperlukan untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Dengan terapi yang teratur, dukungan keluarga, dan pendekatan multidisiplin, banyak pasien Parkinson usia muda tetap dapat bekerja, beraktivitas, dan menjalani hidup secara produktif.

Penanganan Parkinson di National Hospital

Penanganan Parkinson memerlukan pendekatan komprehensif, mulai dari terapi obat, rehabilitasi medik, hingga tindakan bedah pada kasus tertentu.

Di National Hospital, penanganan Parkinson dilakukan secara multidisiplin oleh tim neurologi dan bedah saraf berpengalaman. Untuk kasus dengan gejala yang tidak lagi terkontrol dengan obat, tersedia tindakan lanjutan seperti Deep Brain Stimulation (DBS), yaitu prosedur pemasangan elektroda di otak untuk membantu mengontrol gejala motorik.

Salah satu dokter yang menangani kasus Parkinson dan gangguan gerak adalah
Dr. dr. Achmad Fahmi., SpBS(K) Subsp.NF., FINPS., IFAANS, dokter spesialis bedah saraf konsultan neurofungsional yang berpengalaman dalam penanganan gangguan gerak, termasuk Parkinson.

Konsultasi Parkinson di Surabaya

Bagi masyarakat yang mengalami tremor, kekakuan otot, atau perlambatan gerak yang tidak biasa — terutama di usia muda — disarankan untuk segera melakukan evaluasi medis.

Konsultasi penanganan Parkinson dapat dilakukan langsung dengan Dr. dr. Achmad Fahmi, SpBS(K) Subsp.NF., FINPS., IFAANS di National Hospital Surabaya untuk mendapatkan diagnosis menyeluruh dan rencana terapi yang sesuai dengan kondisi pasien.

Deteksi dini dan terapi yang tepat dapat membantu pasien tetap aktif, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang optimal meskipun hidup dengan Parkinson.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *